Sabtu, 12 November 2011

TAREKAT SHADHILIYAH


POKOK-POKOK AJARAN TAREKAT SHADHILIYAH
DI  KECAMATAN SUGIHWARAS
KABUPATEN BOJONEGORO

Oleh: Muzayyanah Hamas Ahmad

A.  Beberapa Ajaran Tarekat Shadhiliyah
            Setiap aliran tarekat memiliki amalan dan ajaran khas, sesuai dengan aturan-aturan dan tata cara yang diterapkan di dalam tarekat tersebut. Secara sosiologis, tindakan dan perilaku suatu komunitas beragama cenderung didasarkan pada kepercayaan terhadap ajaran-ajaran yang diyakini kebenarannya, sehingga ajaran itu memiliki pengaruh cukup besar pada proses sosial dan jalannya kehidupan masyarakat yang bersangkutan.[1] Dari sini, jelas kepercayaan memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan cara-pandang dan perilaku penganutnya dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan, baik dari segi weltanschauung-nya maupun dari konsep eskatologis-nya. Secara singkat dapat diungkapkan, kepercayaan tertentu yang dianut suatu komunitas beragama, sudah barang tentu dapat membentuk tindakan dan pola pikir tertentu pula bagi para penganutnya.
            Demikian pula dengan Tarekat Shadhiliyah, di samping memiliki ajaran khas, tarekat ini populer dengan ajarannya yang mudah dan ringan dalam pengamalannya dibandingkan dengan tarekat-tarekat lain. Setiap ajaran dan amalan-amalannya, diyakini memiliki fungsi masing-masing oleh segenap pengikutnya. Oleh karena itu, mengetahui dan memahami ajaran serta amalan-amalan yang ada di dalam Tarekat Shadhiliyah, merupakan kajian yang sangat penting untuk memahami tarekat ini secara utuh. Menurut catatan Taftazani, al-Shadhili menyatakan bahwa ajaran-ajaran pokok Tarekat Shadhiliyah ada lima, yaitu:[2]
1.    Taqwa kepada Allah SWT.
2.    Itba’ kepada al-Sunnah baik dari segi perkataan maupun perbuatan.
3.     Tidak mempedulikan orang lain dalam melaksanakan kebajikan.
4.    Rida / rela (terhadap pemberian Allah) baik sedikit maupun banyak.
5.    Mengembalikan (segala urusan) kepada Allah, baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang.
Ajaran-ajaran Tarekat Shadhiliyah tersebut telah tersebar ke berbagai penjuru dunia Islam, melalui kitab “al-Hikam” karya monumental  Ibn ‘Ata’illah al-Sakandary, yang telah di-sharah-kan oleh Ibn ‘Abad al-Randi (w.790 H) dengan judul: Sharah al-Hikam.[3] Sehingga tarekat ini telah tersebar ke Andalusia, ke dunia Islam bagian Timur, seperti Melayu sampai pula ke Afrika Utara dan Afrika Barat serta memperoleh pengikut yang luas di negara Mesir dan negara-negara Arab yang lain.[4]
Demikian pula dengan ajaran Tarekat Shadhiliyah yang ada di Indonesia, khususnya di Kecamatan Sugihwaras, juga tidak terlepas dari kandungan kitab al-Hikam tersebut. Bahkan pada setiap pertemuan (tawajuhan) yang diadakan oleh sang murshid, KH. Mas’ud Thoha. Biasanya setelah didahului oleh serangkaian pembacaan dhikir bersama, ia mengajarkan isi kitab tersebut kepada para muridnya. Adapun pertemuan rutin tersebut dilaksanakan dua kali dalam setiap bulan, yakni setiap malam Ahad Wage dan malam Ahad Kliwon. Pada malam Ahad Wage, pertemuan rutin itu dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Huda yang berlokasi di Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro. Sementara pada malam Ahad Kliwon, pertemuannya dilaksanakan di cabangnya, yakni di Pondok Pesantren Nurul Huda yang berada di lereng Gunung Andong, tepatnya di Dusun Gandul, Desa Pendem, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan demikian, bagi para murid yang rumahnya jauh, biasanya mulai Sabtu pagi sudah mulai berdatangan dan bahkan ada yang datang tiga hari sebelum acara tawajuhan berlangsung. Penjelasan kelima ajaran pokok Tarekat Shadhiliyah tersebut, sebagai berikut:
1. Taqwa kepada Allah SWT.
            Taqwa kepada Allah SWT. senantiasa ditekankan oleh KH. Mas’ud Thoha, selaku murshid, terutama dalam setiap pertemuan. Menurutnya, seseorang yang mengaku dirinya muslim sudah semestinya beriman kepada Allah SWT, dan buah daripada iman itu adalah taqwa kepada Tuhan-Nya. Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang menghimbau manusia agar selalu bertaqwa kepada-Nya adalah yang berbunyi:



      Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan jangan sampai kamu mati kecuali sebagai orang-orang yang muslim”. (QS. 3:102).
Adapun indikasi orang-orang bertaqwa, sebagaimana yang dimuat di dalam surat al-Baqarah, sebagai berikut:





      Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang percaya kepada yang gaib,  yang menegakkan salat, dan mereka yang mendermakan sebagian harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab suci yang telah diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad), dan mereka yang meyakini akan (adanya) kehidupan akhirat”. (QS. 2 : 3-4).
Sekalipun taqwa terkesan lebih berorientasi akhirat, namun orang yang bertaqwa juga dapat meraih kehidupan di dunia. Sebagaimana halnya dengan istilah kehidupan sehari-hari, bahwa jika orang memiliki rencana-rencana jangka panjang maka tentu jangka pendeknya juga dapat diperoleh. Apabila berorientasi pada masa depan, maka masa kini juga akan diraih. Pengorbanan sesuatu yang berjangka pendek selalu bersifat sementara, sebab kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan dalam jangka panjang. Jadi, taqwa yang benar tentu akan memiliki dampak yang dapat diraih oleh manusia bukan hanya kelak di akhirat, tetapi ketika masih di dunia pun  manusia dapat merasakan hasilnya, sebagaimana janji Allah SWT. :



      Artinya:
      “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan jalan keluar (dari kesulitannya). Dan Allah akan memberikan rizki dari arah yang tiada terduga”. (QS. 65: 2-3)
            Oleh karena itu, taqwa merupakan pondasi utama untuk meraih kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga, di dalam konsep taqwa bukan hanya mengandung makna memperhatikan salah satu aspek saja, tetapi kedua-duanya sekaligus. Sehingga jika manusia hanya memperhatikan kebahagiaan hidup semasa di dunia saja, tentu ia tidak akan mendapat kebahagiaan (kehidupan) di akhirat kelak. Sementara bagi mereka yang memperhatikan kebahagiaan akhirat, maka secara otomatis kehidupan di dunia pun akan dijamin oleh Allah. Dalam hal ini Allah SWT. Berfirman, yang artinya sebagai berikut:
Maka diantara manusia ada yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan diantara mereka ada yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”.(QS.2 : 200-202).

Di dalam ayat lain, Allah berfirman dengan artinya:
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.3:148).
Konteks ayat di atas, memberikan gambaran tentang sikap taqwa. Disebutkan bahwa taqwa akan membawa anugerah kehidupan dunia dan akhirat. Allah menyediakan dua pahala. Seiring dengan itu, di dalam firman-Nya yang lain, Allah tetap mengingatkan manusia agar supaya tidak terlena dan tidak hanya mementingkan urusan dunia saja.
Barangsiapa yang mengehendaki pahala di dunia saja (maka merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. 4:134).
Peringatan Allah SWT yang lain tentang dunia terhadap manusia adalah:
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”. (QS. 47:36).
Selain itu al-Qur’an juga menegaskan bahwa kebahagiaan akhirat hanya disediakan Allah bagi mereka yang di dunia tidak suka menyombongkan dirinya, tidak adigung-adiguna, dan tidak pula bagi mereka yang tak peduli terhadap orang lain.
Artinya:
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan bebrbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan yang baik (surga) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 28:83).
Untuk itulah, dalam setiap kesempatan murshid selalu menasihati para muridnya, sebagai manusia yang beriman hendaknya senantiasa waspada dan selalu berusaha untuk mengasah mata hatinya, agar supaya ia tetap “tergerak” untuk berbuat kebajikan dan tidak pula terlena dengan keindahan dan keelokan dunia yang bersifat fana ini. Orientasi terhadap jangka panjang, akhirat, harus tetap terpelihara di dalam dada seorang muttaqin. Sebab jika demikian, sebagaimana janji Allah di atas, bukan cuma kebahagiaan di akhirat yang didapat, kebahagiaan di dunia pun juga akan diperolehnya dengan tanpa kesulitan yang berarti.
Selain itu, di hadapan para muridnya sang murshid juga sering memberi wejangan akan pentingnya menuntut ilmu dan beramal.[5] Bagi taqwanya orang tarekat adalah ilmu dan amal. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Ilmu merupakan bekal penting manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini menuju kehidupan di akhirat kelak. Orang yang berilmu tentu tidak sama dengan mereka yang tidak berilmu, namun tidak semua ilmu layak untuk dipelajari, seperti ilmu sihir, ilmu mencuri dan sejenisnya. Di samping itu, beramal merupakan hal yang tak kalah pentingnya bagi orang yang berilmu, amal harus pula disertai dengan keikhlasan. Di dalam dunia tasawuf, terdapat ungkapan indah, “Setiap manusia di dunia ini buta kecuali mereka yang berilmu, orang-orang yang berilmu itu binasa kecuali mereka yang beramal, dan orang-orang yang beramal itu sia-sia kecuali yang disertai dengan keikhlasan, dan orang-orang yang ikhlas pun senantiasa berada di dalam bahaya”. Disinilah Ikhlas merupakan sikap hidup yang selalu dituntut bagi setiap orang beragama di dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.
Dari sini pula dapat dipahami, bahwa ikhlas adalah “kata kunci” dari segala aktifitas manusia agar supaya ia bermakna di hadapan Tuhannya. Tetapi karena prilaku ikhlas itu merupakan suatu yang sangat abstrak dan terletak di dalam sanubari yang terdalam maka orang-orang yang ikhlas tersebut masih berada di bawah pengintaian syetan, sehingga mereka harus tetap waspada. Terkait dengan ini, murshid sering menganjurkan para muridnya agar selalu mempertajam basirah (mata hatinya) dan istiqamah di jalan-Nya. Katanya, “Hendaklah kalian semua ajeg (istiqamah) kepada kehidupan akhirat, karena barang siapa yang hatinya ajeg terhadap akhirat, maka tentu segala yang dicita-citakan akan tercapai dengan segera”.[6]
Dalam perspektif ini, taqwa merupakan pengamalan semua perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya, sehingga dengan sendirinya dunia akan terbawa. Kendatipun seseorang menekuni ilmu lakon (tarekat), -yang notabenenya hanya tertuju pada akhirat-, maka Allah tetap akan memberi jaminan terhadap nasibnya di dunia. Namun demikian di dalam tarekat ini, salik tetap dituntut untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Pada suatu hari murshid, KH. Mas’ud Thoha,[7] menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah ke muka bumi dengan mengemban dua tugas, yaitu tugas kenabian dan tugas kerasulan. Tatkala Nabi Muhammad SAW. mengemban tugas-tugas kenabian, Nabi menganjurkan para umatnya untuk tekun beribadah dan mengabdikan diri hanya kepada Allah semata. Sebagaimana salah satu hadithnya: “An-ta’buda Allah ka-annaka tarahu, wa in-lam takun tarahu, fa-innahu yaraka” (hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu, maka (yakinlah) sesungguhnya Allah-lah yang melihatmu). Nabi mengajarkan agar umatnya dalam beribadah mampu menjadi hamba Allah yang hanya berorientasi pada akhirat belaka. Allah berfirman,: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. 51: 56)
Dalam mengemban tugas kerasulan, Nabi sangat menekankan umatnya supaya bekerja keras, sekuat tenaganya untuk memanfaatkan sumber-sumber daya alam (SDA) yang telah disediakan oleh Allah secara maksimal, sehingga SDA itu tidak dikuasai oleh orang-orang non-muslim. Dalam konteks ini, tidak ada larangan bagi penganut tarekat untuk menjadi seorang yang kaya raya, bahkan jika memungkinkan mereka harus menjadi kaum yang memiliki akses ekonomi kuat. Allah SWT. berfirman:




Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77).
Dari ayat di atas dapat dimengerti, manakala manusia hanya memperhatikan salah satu aspek saja, aspek akhirat atau dunia saja, maka berarti ia tidak berbuat baik kepada Allah. Padahal Allah telah berbuat baik kepada manusia, dengan cara menyediakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dari sini semakin jelas, taqwa dalam pemahaman Tarekat Shadhiliyah tidak hanya berorientasi akhirat, tetapi sebagaimana ajaran  Nabi Muhammad, juga harus memperhatikan kehidupannya semasa di dunia. Seorang sufi tidak harus bersandal jepit, berpakaian lusuh, atau bersorban kumal, misalnya. Tetapi sufi harus tetap berpenampilan rapi, bersepatu, bersih, wangi, sehingga indah dipandang. Bukankah Islam mengajarkan, “Al-Nazafatu min al-Iman”. Terdapat beberapa ungkapan populer di kalangan aliran Tarekat Shadhiliyah ini, yaitu “Jika seorang hamba mampu berdhikir kepada Allah di atas kasur yang empuk, lalu kenapa harus berdhikir di atas tikar yang kasar?”, atau “Bagaimana bisa tenang beribadah jika perut dalam keadaan kosong?”. Hal ini menunjukkan, bagi pengikut tarekat ini kekayaan merupakan media penting untuk beribadah kepada-Nya sehingga walaupun kaya dan berpangkat, maka hendaknya tidak menyebabkan seseorang lupa untuk mengingat-Nya, akan tetapi justru sebaliknya.
Harta kekayaan tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang hina-dina dan harus dijauhi. Tetapi ia dilihat sebagai amanah dari Allah yang patut untuk dijaga, dicari dan dibelanjakan di jalan-Nya, serta anugerah yang boleh dinikmati namun harus disyukuri. Oleh karena itulah, manusia wajib untuk bekerja keras sebagai upaya memperoleh anugerah Allah itu, namun tidak boleh dikuasai olehnya. Harta benda tidak boleh dijadikan sebagai tujuan akhir, tetapi harus diposisikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hati manusia tidak dibenarkan terkungkung oleh harta, atau yang disebut dengan istilah hubb al-dunya (cinta dunia). Cinta dunia dapat mengakibatkan kebinasaan. Nabi Muhammad SAW. memperingatkan dalam sebuah hadithnya, bahwa jika hubb al-dunya sudah menimpa manusia, maka pasti ia akan mengalami penyakit karahiyyah al-mawt (takut mati). Padahal sikap takut mati itu sangat berbahaya, karena pasti mempunyai dampak negatif, misalnya ia akan enggan berjuang di jalan Allah (berjihad).  Manusia yang tidak dilanda cinta dunia, tentu batinnya disibukkan dengan dhikr al-mawt (mengingat mati), melalui mengisi hari-harinya dengan perbuatan-perbuatan terpuji sebagai persiapan menyambut datangnya ajal yang setiap waktu mengintai manusia.
Seorang salik yang dianugerahi harta-benda oleh Allah, wajib untuk menghiasi dirinya dengan sikap sakha’ (dermawan) dan zuhud. Dalam hal ini, terdapat kisah menarik perihal kehidupan pendiri Tarekat Shadhiliyah, Abu Hasan al-Shadhili:
“Pada suatu hari, terdapat seseorang yang ingin bertemu dengan Imam Hasan al-Shadhili di rumahnya. Karena belum tahu dimana rumahnya, ia bertanya kepada orang lain. Orang itu segera pergi ke tempat dimana yang ditunjukkan oleh orang yang ditanyai itu. Begitu sampai ke tempat yang dimaksud, ia tidak jadi masuk ke rumah itu, karena ia menjumpai bangunan rumah bagaikan istana raja yang sangat indah nan megah. Ia tidak percaya kalau itu adalah rumah imam yang dicarinya. Dalam hatinya, ia yakin bahwa seorang waliyullah tidak akan hidup semewah itu. Seorang wali adalah orang yang hidup sederhana dan pasti mengamalkan sikap zuhud, yaitu sikap menjauhi dunia. Melihat kenyataan tersebut, orang itu segera kembali pulang dengan berjalan kaki seperti waktu ia berangkat. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang pengendara kereta kuda yang mewah yang mempersilahkan ia naik bersamanya. Dengan penuh rasa was-was, akhirnya ia menerima tawaran orang tersebut. Dalam pembicaraan di atas kereta, diketahuilah bahwa si pengendara kereta itu tidak lain adalah Imam Abu Hasan al-Shadhili. Ketika orang tersebut mengetahui siapa yang ditumpanginya, ia pun tidak berani menyembunyikan niatnya semula dan menyatakan bahwa sebenarnya ia baru saja pergi ke rumah sang imam. Mendengar penuturan tersebut, Imam Hasan menjamu tamunya, dengan memberikan sebuah gelas yang berisi anggur istimewa. Ia sangat kagum karena selama hidupnya belum pernah menikmati anggur yang semacam itu. Rasa kagum itu membuatnya takut kalau-kalau anggurnya tumpah dan gelasnya terlepas dari genggamannya. Apalagi kereta yang ditumpanginya sedang dalam keadaan lari kencang sekali mengelilingi kota. Seluruh perhatiannya, hanya tertuju kepada anggur dan gelas itu, sehingga ia tidak bisa menikmati perjalanannya yang mengelilingi kota yang indah nan megah. Setelah selesai berkeliling, sampai di depan rumah sang imam, ia bertanya kepada orang yang terus-menerus memandangi anggurnya. Orang itu baru sadar, ketika sang imam bertanya bagaimana kesannya dalam perjalanan tadi. Ia tergagap dan tidak mampu menjawabnya, karena ia hanya sibuk memperhatikan anggur yang ada di genggamannya. Sebelum orang itu menjawab, sang imam menjelaskan dengan kata-katanya: “Nah, antara kamu, keindahan kota dan anggur di tanganmu itu, ibarat aku sendiri dengan harta dan Allah yang ada di dalam batinku. Karena perhatianku hanya tertuju kepada Allah, maka aku tidak pernah peduli apakah aku kaya atau miskin, seperti kau tidak peduli apakah kota itu indah atau tidak.” [8]
Dari sini, dapat diketahui bahwa zuhud menurut Tarekat Shadhiliyah adalah kondisi hati seorang hamba dalam memposisikan dunia. Ia harus memiliki perasaan yang tidak dikuasai oleh dunia, dalam keadaan apapun dan di mana pun ia berada. Sehingga ia tidak boleh diperbudak oleh harta kekayaan yang dimilikinya. Karena itu, maksud zuhud di sini bukanlah semata-mata terlihat dari lahirnya yang tampak menginggalkan urusan duniawi, tetapi yang terpenting adalah sikap batinnya.
2. Itba’ kepada al-Sunnah baik dari segi perkataan maupun perbuatan
Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya orang yang layak untuk dijadikan uswah dan qudwah (suri teladan) dalam menjalankan aktifitas keseharian. Sehingga jika diantara kaum muslimin, ada yang masih mengidolakan atau menjadikan figur selain nabi, misalnya menfigurkan artis, adalah sungguh sangat ironi. Nabi adalah sosok manusia sempurna dihadapan Allah, maka seorang salik sudah seharusnya untuk mengikuti jejaknya, sebagaimana yang tercantum di dalam al-Qur’an:
Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.33:21).
Di samping itu, akhlaq beliau adalah pengejawantahan dari al-Qur’an. Ketika Aisyah RA. ditanya tentang akhlaq Rasulullah, Aisyah menjawab akhlaq Rasulullah adalah al-Qur’an. Sehingga menjadi keharusan bagi umat Islam untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai figur yang harus diteladani baik dari segi perkataan maupun tindakan. Dengan cara menghidupkan kembali sunnah-sunnah Nabi di tengah-tengah tantangan ideologi global ini.
3.    Tidak mempedulikan orang lain dalam melaksanakan kebajikan
Pada point ketiga ini Imam Abu Hasan al-Shadhili menegaskan bahwa ketika melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah, janganlah mengindahkan atau mempedulikan pandangan orang lain. Dicela sekalipun, sebaiknya salik pantang menyerah. Ketika pujian datang, maka ia pun harus tetap mewaspadainya.
Dalam salah satu hadith, Nabi bersabda, yang artinya :
“Bertaqwalah kepada Allah dimana pun engkau berada, dan ikutilah (tutuplah) perbuatan-perbuatan jelek dengan kebajikan, pasti kebajikan itu akan menghapusnya, dan bergaulah terhadap sesamanya dengan budi pekerti yang baik”. (HR. al-Tirmidhi)
Sikap, perbuatan dan ucapan merupakan cermin integritas kepribadian seorang muttaqin, di dalam bahasa agama dikenal dengan istilah akhlaq (moralitas). Berakhlaq mulia adalah salah satu ajaran Nabi Muhammad, yang di manapun dan kapanpun ia tetap relevan. Buah ketaqwaan seorang salik akan melahirkan moralitas tinggi dalam kehidupan sosialnya, sehingga tidak perlu mempedulikan cemoohan orang-orang yang mencelanya. Ketika salik melakukan suatu kesalahan segera melakukan kebajikan-kebajikan supaya kesalahan itu segera pula tertutupi dan terhapus. Demikianlah ia tidak takut pada siapa pun dalam memperjuangkan kebenaran, demi melaksanakan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.
4.    Rida / rela (terhadap pemberian Allah) baik sedikit maupun banyak
Rida terhadap pemberian Allah SWT. adalah salah satu syarat mutlak bagi seorang hamba dalam meniti perjalanan suluk. Jika sifat rida sudah tumbuh dan bersemi di dalam hati salik, menunjukkan ia telah bersyukur terhadap segala keputusan Allah kepadanya, suatu sikap terpuji yang layak dimiliki oleh salik. Rida di sini bukan berarti pasif, ia tetap berusaha secara maksimal namun hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Apapun hasil usahanya, banyak atau sedikit, menguntungkan atau tidak, menyenangkan atau tidak adalah hak prerogatif Allah. Salik menerimanya dengan lapang dada, legowo, penuh keridaan, tanpa terbersit sedikitpun rasa was-was. Keputusan akhir diyakini sebagai yang terbaik bagi dirinya. Ia tidak pernah berburuk sangka kepada Allah SWT., demi menjaga kebersihan dan kejernihan hatinya.
5.    Mengembalikan (segala urusan) kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang
Setelah mengamalkan ajaran yang tertera pada poin keempat, keridaan hati, sebagai konsekuensinya tentu ia akan memiliki sikap mengembalikan segala apa yang terjadi kepada Allah semata. Perasaan husn al-dhan (berbaik sangka) kepada Allah senantiasa terpatri di dalam sanubarinya. Yakin bahwa setiap kejadian yang menimpa dirinya diserahkan kepada Allah SWT., Inna lillah wa inna ilayhi raji’un. Di dunia yang serba fana ini, hanya Allah yang pantas dan layak untuk dijadikan sebagai sandaran. Dia-lah tempat segalanya kembali. Demikianlah makna kalimat yang sering diucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Dalam literatur kesufian Jawa pun, ada ungkapan yang berbunyi bahwa Tuhan adalah Sangkan Paran. Sangkan artinya asal, Paran artinya tujuan. Kalimat itu tidak lain merupakan terjemahan dari kalimat al-Qur’an Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un.
Kelima ajaran pokok Tarekat Shadhiliyah tersebut, dalam konteks ajaran Tarekat Shadhiliyah yang berkembang di Sugihwaras, teraktualisasi ke dalam beberapa point yang dijadikan sebagai visi dan misi Pondok Pesantren Nurul Huda dalam menjalankan dakwahnya, yaitu:[9]
Visi Pondok Pesantren Nurul Huda tersebut adalah: “Menciptakan manusia-manusia muttaqin dibawah naungan rida Allah SWT. ketika mengarungi bahtera kehidupan di dunia dalam rangka mengemban amanah-Nya sebagai khalifahtullah fil ard, menuju derajat mulia di sisi-Nya
Adapun misinya sebagai berikut:
a.  Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar (memerintahkan untuk berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
b.    Mengajak untuk menutupi aib orang lain.
c.    Mengajak untuk selalu menaburkan sikap welas-asih (kasih-sayang).
d.    Mengajak orang yang berilmu (‘alim/cendikiawan) untuk mengamalkan ilmunya.
e.    Mengajak orang yang berperangai buruk agar supaya menjadi orang yang selalu dihiasi dengan akhlak terpuji. 
f.     Mengajak orang yang suka bertengkar untuk menjadi seorang yang penuh dengan rasa persahabatan.
g.    Mengajak orang yang ibadahnya diliputi oleh sifat riya’ supaya menjadi orang yang selalu ikhlas dalam setiap aktivitas ibadahnya.
h.    Mengajak orang yang memiliki sifat ujub dan sombong agar menjadi seorang yang senantiasa diliputi rasa syukur.
i.      Mengajak orang yang memiliki sifat takabbur agar supaya menjadi orang yang selalu tawadu’.
j.      Mengajak orang yang tidak mengerjakan salat supaya menjadi seorang yang senantiasa menegakkan salat.
k.    Mengajak untuk memberikan pakaian dan makanan kepada orang-orang yang membutuhkannya.
l.      Mengajak untuk melihat bahwa segala anugerah adalah milik Allah.
Semua misi dan visi Pesantren Nurul Huda yang telah disebut di atas, pada dasarnya sejalan dengan kelima point ajaran yang diprioritaskan dalam Tarekat Shadhiliyah. Ajaran tarekat ini, dalam beribadah (baik ibadah mahdah maupun ghayru mahdah) sangat menekankan supaya dilandasi keikhlasan dan menjauhi motivasi duniawi, disertai rasa syukur dan pengakuan akan adanya kelemahan dan kekurangan dalam diri seorang hamba (tawadu’). Kemudian setelah Allah mengetahui kejujuran dari perasaan tawadu’ yang dipenuhi dengan rasa syukur itu, tentu Dia akan membukakan rahasia pintu ma’rifat-Nya (fath Rabbani) dan memberikan rahasia-rahasia keimanan kepada si salik.
B.   Etika Murid Terhadap Murshid
Murshid (pembimbing) yang lazim disebut guru atau syeikh adalah seorang sufi yang telah mencapai maqam tertinggi dalam perjalanan suluknya, sehingga ia memiliki wewenang untuk membimbing pengikutnya, murid, dalam menempuh jalan tasawuf yang tentunya penuh liku-liku, berupa tantangan, kesulitan, cobaan, rintangan ataupun lawan yang siap mengintai setiap saat, seperti rayuan hawa nafsu dan syetan. Pada prinsipnya, peran seorang murshid menempati posisi sentral dalam perjalanan membawa murid menuju “pantai tujuan” supaya selamat. Hubungan keduanya, ibarat dokter dan pasien. Al-Ghazali berpendapat, murshid merupakan dokter spiritual yang akan mengobati para murid dari segala macam penyakit jiwa yang menghalangi perjalanan rohaninya. Sehingga hampir para sufi sependapat, bahwa keberadaan seorang murshid merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.[10] Dengan demikian bagi mereka yang menimba ilmu-ilmu suluk tanpa melalui guru, maka dihukumi batal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Qushayri dalam Kitab Risalah-nya:Seorang murid wajib mengikuti seorang syeikh/guru, jika tidak, maka ia tidak akan menemukan kebahagiaan selamanya[11] Abu Yazid al-Buastami juga mengatakan, “Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka ia telah berimam pada syetan”. Sementara Abu Ali al-Daqqaq berkata: ”Seorang murid yang tidak memiliki guru, diibaratkan pohon yang tumbuh dengan sendirinya tanpa ada yang menanam ia berdaun tetapi tidak dapat berbuah”.[12]
Oleh karenanya, seorang murid yang ingin meniti jalan tasawuf dengan selamat dan supaya tidak terjerumus ke jurang kesesatan, maka ia harus terlebih dahulu mencari seorang guru yang kredibilitas shar’inya dapat dipercaya. Sebagai akibatnya, hubungan guru dengan murid adalah hubungan hirarkhis yang menentukan mu’tabarah atau tidaknya suatu tarekat. Sehingga dari pola hubungan yang semacam itu, tentu terdapat aturan-aturan moral yang mengikat antara keduanya, yang disebut etika / adab. Di antara etika murid terhadap guru adalah sebagai berikut:
1.    Hendaknya seorang murid harus thiqah (percaya dan yakin) kepada integritas guru. Sebab ketidakthiqahan seorang murid kepada gurunya, dapat menyebabkan terhalangnya hidayah Allah.
2.    Dalam rangka pembersihan jiwa (tazkiyah al-nafs), hendaknya murid bersikap terbuka, tidak mnyembunyikan suatu rahasia apapun yang ada di dalam batinnya kepada sang guru, sehingga guru dapat segera mengobati dan memberi petunjuk terhadap hal-hal yang memang diperlukan.
3.    Murid menempatkan posisi guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, yaitu pembimbing spiritual.
4.    Murid harus selalu mengembangkan sikap berbaik sangka (husn al-dhan) kepada guru. Sehingga jika murid melihat gurunya secara dahir berbuat kesalahan, maka untuk menghindari perasaan buruk sangka dan was-was ia wajib menanyakan hal itu kepada gurunya.
5.    Murid harus selalu bersikap jujur dan amanah terhadap guru baik secara lahir maupun batin, sebab dengan izin Allah guru mampu mengetahui sesuatu yang bersifat batin.
6.    Murid wajib menjaga harkat dan martabat guru, di manapun dan kapanpun ia berada.
7.    Hendaknya murid melaksanakan semua yang diajarkan oleh guru, karena hal itu dapat menghantarkan perjalanan suluknya secara cepat, serta dapat pula menambah tinggi derajatnya.
8.    Murid harus memiliki sifat ikhlas, sehingga dapat dengan mudah mendatangi majlis tawajuhan.
C.   Kegiatan-Kegiatan Ritual Tarekat Shadhiliyah
Maksud kegiatan-kegiatan ritual di sini adalah beberapa kegiatan yang memiliki nilai sakral (tentunya dalam pandangan salik), serta memiliki tata-cara tertentu yang dilaksanakan dengan khusyu’ dan khidmat yang melibatkan kebersamaan antara segenap para pengikut tarekat (murid) dengan sang murshid.
Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap “perguruan” tarekat, memiliki kegiatan-kegiatan ritual yang berbeda antara satu tarekat dengan yang lainnya. Kegiatan ritual itu sangat terkait dengan konsep ataupun ajaran-ajaran yang berkembang di dalam tarekat yang bersangkutan. Namun demikian, perbedaaan tersebut bukan prinsip sehingga tidak perlu diperdebatkan, sebab pada akhirnya arah yang dituju adalah sama yaitu Allah SWT.
Kegiatan-kegiatan ritual Tarekat Shadhiliyah yang berkembang di Kecamatan Sugihwaras, antara lain khataman, tawajuhan, dhikir, istighathah dan bay’at. Secara psikologis, kegiatan-kegiatan ritual itu memiliki pengaruh sangat dalam bagi para pengikutnya terutama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penjelasan kegiatan-kegiatan ritual Tarekat Shadhiliyah di Sugihwaras tersebut, adalah sebagai berikut:
1.  Khataman.
Kegiatan khataman merupakan ritual penting yang dilaksanakan rutin pada setiap hari Sabtu Pon dan Sabtu Wage di dua lokasi setiap bulan. Pada  Sabtu Pon, khataman dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Huda yang ada di Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. Sementara pada Sabtu wage, Khataman dilaksanakan di Cabangnya, yaitu Pondok Pesantren Nurul Huda yang ada di lereng Gunung Andong, Dusun Gandul, Desa Pendem, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pelaksana khataman biasanya para murid yang hafal al-Qur’an (hafiz), sementara bagi yang lain cukup menyimak saja. Waktunya dimulai sejak pagi hari dan diakhiri sore harinya. Pada saat pembacaan al-Qur’an berlangsung, para jama’ah biasanya membawa air dan menyimpannya di depan si pembaca al-Qur’an, konon air tersebut diyakini memiliki “kekuatan magis” (baca: membawa berkah) yang dapat berfungsi sebagai  obat bagi berbagai jenis penyakit.
Ritual khataman ini juga diyakini memiliki faedah-faedah yang bersifat rohani antara lain adalah dapat meningkatkan kualitas spiritual para salik, dapat menjadi sebab turunnya berkah dari langit, mempermudah tercapainya cita-cita dan juga sebagai forum tawajuhan,[13] serta silaturrahim antar ikhwan. Khataman berarkhir setelah salat ashar, yang kemudian ditutup oleh murshid secara langsung dengan pembacaan do’a. Namun sebelum membaca do’a, terlebih dahulu sang murshid memberikan beberapa “santapan” rohani bagi para muridnya.
2.  Tawajuhan
Maksud tawajuhan di sini adalah pertemuan atau bertatap mukanya antara murid dengan guru dalam rangka menimba ilmu-ilmu suluk. Tawajuhan ini bersifat tertutup, sehingga selain murid tidak diperkenankan untuk mengikutinya. Pelaksanaan tawajuhan biasanya setelah ritual khataman selesai. Para salik setelah mendengar adhan Maghrib berkumandang, segera bergegas untuk melaksanakan salat Maghrib secara berjama’ah, kemudian istirahat sebentar untuk menikmati makan malam (jamuan disediakan oleh murshid), lalu dilanjutkan dengan salat Isya’. Setelah usai salat Isya’, dimulailah acara tawajuhan dengan susunan acara sebagai berikut:
1.    Diawali dengan pembacaan salawat pada Nabi Muhammad SAW, dengan iringan rebbana, oleh para murid yang telah diberi tugas.
2.    MC mulai membuka acara sekaligus memandu jalannya acara. Petugasnya dari murid senior.
3.    Pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an.
4.    Pembacaan istighasah.
5.    Ceramah agama. Dalam ceramah agama biasanya diisi oleh para murid senior yang telah ditunjuk oleh sang murshid, mereka yang diberi wewenang untuk memberi ceramah adalah:
a.    KH. Harun al-Rashid, merupakan seorang pengasuh salah satu Pondok Pesantren yang ada di Rengel, Tuban, Jawa Timur.
b.    KH. Afif Azhari, merupakan murid senior yang berprofesi sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Surabaya.
c.    KH. Nawawi, merupakan murid senior yang berasal dari Banten. (Dia biasanya hanya memberi ceramah ketika tawajuhan di Magelang).
d.    Pengajian.
e.    Penutup / do’a. (dipimpin oleh murshid).
Dalam acara pengajian (poin ke-6) itulah sebetulnya yang merupakan inti dari tawajuhan. Di dalam acara pengajian itu diberikan langsung oleh sang murshid.[14] Sebagaimana  telah disinggung di atas, bahwa murshid memberikan pengajian kitab al-Hikam, karya monumental Ibn Ata’illah al-Sakandary, yang -secara tidak langsung- merupakan beberapa pemikiran Imam Abu Hasan al-Shadhili tentang suluk.[15] Kitab ini juga merupakan salah satu pedoman bagi penganut Tarekat Shadhiliyah, yang kalau dicermati isinya sarat dengan ratusan mutiara hikmah (kebijaksanaan) yang bisa dijumpai oleh pencari pencerahan batin. Kitab ini diungkapkan dengan menggunakan bahasa sastra yang bernilai tinggi dan bermakna sangat dalam, sehingga suatu kewajaran jika banyak orang yang tertarik untuk menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa.
Meminjam istilah yang digunakan Gus Mus,[16] bahwa tarekat pada hakekatnya lebih menyangkut pada perbaikan-pebaikan pribadi, perbaikan akhlak dan peningkatan kesadaran spiritual. Bagi orang-orang kebanyakan yang sudah terbiasa dengan wejangan-wejangan kemasyarakatan, boleh jadi akan timbul semacam ganjalan ketika membaca kitab al-Hikam ini. Sebab fokus dari aphorisma Ibn Ata’illah ini, memang pribadi-pribadi salikin, mereka yang menapaki jalan menuju makrifat, pengenalan sejati terhadap Allah SWT. Boleh jadi banyak pembaca yang mendapatkan kesan bahwa kitab itu menganjurkan orang untuk menjauhi atau melarikan diri dari isi dunia, sesuatu yang justru pada zaman modern ini sangat disukai orang.
Boleh jadi demikian, namun satu hal yang mungkin sering dilupakan, bahwa tasawuf, bidang garapan aphorisma al-Hikam, pada hakekatnya adalah akhlak dalam pengertian yang lebih luas. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa diantara krisis-krisis multidimensi yang melanda negeri dan bangsa ini adalah krisis akhlak merupakan -atau minimal- termasuk salah satu krisis utamanya. Maka pengkajian terhadap kitab-kitab tasawuf, seperti al-Hikam itu, diharapkan menjadi pengaruh lain, ditengah-tengah pengaruh yang banyak menyeret manusia ke arah krisis itu. Kalau tidak, minimal telah menjadi penyeimbang.

3. Dhikir
Dhikir berasal dari kata “dhakara – yadhkuru - dhikran” yang berarti menyebut, mengucapkan, mengingat, atau dapat pula berarti pujian. [17]  Dari isim masdar-nya kata “dhakara” itulah (dhikran / al-dhikru) yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia, yang dikenal dengan istilah dhikir.
Allah memerintahkan ibadah salat supaya manusia dhikir (ingat) kepada Allah SWT., sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Musa as.:


Artinya:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkan salat untuk mengingat Aku”.(QS.20:14).
Allah juga memberikan ilustrasi keadaan orang-orang munafiq sebagai berikut:



Artinya;
Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud untuk riya’ (dengan salat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS.4:142).
Selain itu, Allah juga memperingatkan manusia agar jangan sampai lupa kepada-Nya:



Artinya:
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka  sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS.59:19).
Dhikir kepada Allah dalam pengertian yang lebih luas dapat pula diartikan sebagai aktifitas seorang hamba baik secara lahir maupun batin dalam mengingat Allah kapan pun dan dimana pun ia berada, tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga batin orang-orang yang beriman tersebut akan menjadi tenang sebagaimana janji-Nya:                                                    (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, hati menjadi tenteram). (QS.13 : 28)
Al-Qur’an menyebutkan ciri-ciri kaum yang dipuji sebagai ulul albab, -yakni mereka yang memiliki pikiran-pikiran mendalam-, adalah mereka yang selalu ingat kepada Allah SWT.

Artinya:
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:191).
Adapun maksud istilah dhikir dalam tulisan ini adalah aktivitas ibadah lahir-batin, dengan cara lisan mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah untuk mengagungkan nama-nama Allah SWT. dan disertai dengan kondisi batin yang konsentrasi dan hanya tertuju kepada Allah semata. Di dalam ajaran tarekat, dhikir dipandang ibadah penting sehingga terdapat sebuah tarekat yang mendapatkan julukan sebagai tarekat dhikir, yakni tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah.[18] Di dalam Tarekat Shadhiliyah pun sebetulnya tidak jauh berbeda dengan tarekat-tarekat lain, dhikir pun dipahami sebagai ritual yang sangat esensi bagi seorang salik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibn Qayyim al-Jauzi menyatakan: “Sesungguhnya dhikir merupakan pokok berbagai pangkal, jalan ruhani bagi komunitas umum sufisme, dan tempat penyebaran walayah (kewalian). Barang siapa tergugah mata hatinya untuk berdhikir, maka sesungguhnya telah terbuka baginya pintu masuk kepada Allah. Bersucilah ia, dan masuklah kepada Tuhannya. Pada-Nya, ia akan menemukan segala hal yang dikehendakinya. Jika ia menemui Tuhannya, maka ia akan menemukan segala sesuatu. Sebaliknya, jika ia melewati Tuhannya, maka ia akan terlewati pula segala sesuatu”.[19]
Lalu ibn Qayyim melanjutkan, “Di dalam kalbu itu terdapat kebutuhan dan kekurangan yang sama sekali tak akan pernah dapat tertutupi dengan apa pun juga selain dengan berdhikir kepada Allah Azza wa Jalla. Jika dhikir telah menjadi syiar kalbu serta telah menjadi jalan bagi komunikasi antara lisan dengan hati sang hamba, maka dhikir inilah yang akan mampu menutupi kebutuhan dan menghanguskan segala kekurangan. Pelakunya akan menjadi kaya tanpa memiliki banyak harta kekayaan. Ia akan menjadi mulia lagi dicintai tanpa memiliki marga. Ia pun akan berwibawa tanpa mesti menjadi raja. Jika lalai dari berdhikir / mengingat Allah, maka dengan kelalaiannya itu, sang hamba akan merasa faqir padahal memiliki harta kekayaan melimpah. Ia akan menjadi hina tak berwibawa padahal dia seorang sultan. Ia pun menjadi tak ada yang mencintai padahal memiliki banyak marga”.[20]
Adapun di antara yang dijadikan landasan dalam melaksanakan dhikir oleh para pelaku tarekat adalah hadith Nabi Muhammad SAW.:








Artinya:
Maukah kalian (para sahabat) kuberitahu tentang sesuatu yang lebih bagus dari amal-amal kalian, lebih bersih disisi Raja kalian (Allah), lebih tinggi derajatnya padamu, lebih baik daripada infaq emas dan perak, lebih baik dan bermanfaat bagimu daripada berperang melawan musuh, sampai kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian. Para sahabat menjawab: Tentu, Ya Rasulullah. Kemudian Nabi bersabda: Dhikir-lah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [21]
Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa Tarekat Shadhiliyah ini dikenal sebagai tarekat yang ringan dalam mengamalkan ajaran-ajarannya. Termasuk dalam hal amalan dhikirnya. Pelaksanaan dhikir dalam tarekat ini dibagi menjadi dua macam, yaitu dhikir wajib dan dhikir sunnah. Adapun dhikir yang bersifat wajib adalah dilaksanakan setelah salat subuh dan setelah salat maghrib. Sementara dhikir yang bernilai sunnah dilaksanakan setelah salat isya’, yang disebut dengan dhikir nisf layl. Seperti umumnya tarekat yang lain, dhikir yang dibaca para penganut Tarekat Shadhiliyah adalah kalimat tahlil : “La ilaha illa Allah” sebanyak 100 kali, dengan cara bersuara (jahr) kecuali pada saat mengucapkan kata Ila dibaca secara pelan tanpa bersuara (sirri). Cara membacanya sebagaimana berikut: “La ilaha illa Allah” (baca: bersuara / jahr, kecuali kata ila yang tertulis tebal dibaca tanpa suara / sirri).
 Secara teknis, seorang salik ketika membaca dhikir, hendaknya  diikuti dengan cara manarik nafas yang terpusat di pusar menuju ke atas melalui rongga dada sampai keluar melalui mulut, kemudian menariknya kembali menuju ke dada sebelah kiri (tepatnya di bawah susu kiri) menuju ke dada sebelah kanan (tepatnya di bawah susu kanan). 
Dhikir khas Tarekat Shadhiliyah yang tersebut di atas, diyakini sebagai dhikir yang memiliki pengaruh hebat, karena hanya Allah yang tahu dan para malaikat pun tidak mengetahuinya. Sehingga dengan berdhikir ia mampu menggetarkan ‘arsh, sebagai upaya agar si mudhakkir  (pembaca dhikir) tetap dikenang di alam malakut.[22]
Sebelum membaca kalimat tahlil tersebut, diwajibkan pula membaca istighfar sebanyak seratus kali, dan salawat sebanyak tiga kali. Selain itu, sebetulnya masih banyak lagi dhikir harian yang bersifat sunnah di antaranya adalah membaca doa Hizib Rasul, yang diamalkan setiap selesai salat subuh dan maghrib. Kemudian membaca berbagai macam jenis salawat, yaitu salawat: munjiyat, fatih, sa’adah, ta’dil, lamhat, anwar, barakah, tibb al-qulub, dan salawat kamaliyat, yang pengamalannya sewaktu-waktu dan jumlahnya tidak terbatas, serta membaca asma’ al-husna. Adapun bacaan Hizib Rasul yang dimaksud sebagai berikut:




Artinya:
“Ya Allah, jagalah daku dengan penglihatan-Mu yang tidak pernah tidur,  dan jagalah daku dengan penjagaan-Mu yang tiada terbatas, serta sayangilah daku dengan (segala) kekuasaan-Mu, (hanya) Engkau-lah (satu-satunya) kepercayaan dan harapanku. Betapa banyak nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku, namun sangat sedikit rasa syukurku kepada-Mu, dan betapa banyak musibah yang telah Kau timpakan kepadaku, namun kesabaranku sangat sedikit pula. (Ya Allah) aku adalah orang yang paling sedikit bersyukur dibanding kenikmatan (yang telah diberikan-Nya), namun Dia tidak pernah menghukumku. (Ya Allah) aku adalah orang yang paling sedikit bersabar dalam menerima ujian-Mu, tetapi Dia tidak pernah menelantarkan daku. Wahai dhat yang telah melihat kesalahan-kesalahanku, tetapi tidak pernah membuka aibku, Wahai dhat yang memiliki kebajikan yang tiada pernah habis selamanya, Wahai dhat yang memiliki kenikmatan-kenikmatan yang tiada terhitung bilangannya, aku memohon kepada-Mu, semoga kesejahteraan dan keselamatan tetap terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya, sebagaimana kesejahteraan, keberkahan, dan kasih sayang yang telah Engkau curahkan kepada Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Hanya kepada-Mu, aku memohon untuk menghindarkan diri dari (segala) kebusukan dan kesombongan musuh. Ya Allah, bantulah aku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat dengan ketaqwaan, dan jagalah aku dari apa yang tidak aku ketahui, serta jangan timpakan kepadaku diriku Wahai dhat yang tidak pernah memberikan mudarat dan tidak pernah mengurangi ampunan (sedikitpun), berilah aku sesuatu yang tidak dapat membawa kemudaratan bagiku, serta ampunilah aku dari segala sesuatu yang (tentunya) tidak akan pernah mengurangi kekuasaan-Mu. Ya Ilahi, limpahkan kepadaku jalan yang dekat, kesabaran yang indah, serta keluasan rizeki. (Ya Allah) aku mohon kepada-Mu curahkanlah kesehatan dari segala segi, kesehatan yang langgeng, kesehatan yang sempurna, serta kecukupan diantara manusia. Tiada daya-upaya, dan tiada kekuatan kecuali bagi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
4. Istighathah
Istighathah berarti permohonan kepada Allah SWT. Para sejarawan menyebutkan bahwa Istighathah ini erat kaitannya dengan peristiwa perang Badar.[23]  Pembacaan Istighathah ini biasanya dilaksanakan sebelum berdhikir. Bacaan istighathah di dalam tarekat ini berbeda dengan yang ada di dalam Tarekat Naqshabandiyah.[24] Adapun bacaan istighathah Tarekat Shadhiliyah yang ada di Sugihwaras, adalah sebagai berikut:
1.    Membaca surat al-fatihah, dengan didahului kata-kata “Li-Allah Ta’ala al-fatihah”.
2.    Membaca Shahadatayn (dua kalimat shahadat) sebanyak 7 kali.
3.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati al-Nabi al-Mustafa Muhammad SAW. al-fatihah”.
4.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Abu Bakar al-Siddiq, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati al-sahabat Abu Bakar al-Siddiq ra. al-fatihah”.
5.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Umar bin Khattab, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati al-sahabat Umar bin Khattab ra. al-fatihah”.
6.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Uthman bin ‘Affan ra., dengan didahului kalimat ”Ila hadrati al-sahabat Uthman bin ‘Affan ra. al-fatihah”.
7.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Ali bin Abi Talib kw., dengan didahului kalimat ”Ila hadrati al-sahabat Ali bin Abi Talib ra.  al-fatihah”.
8.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Hasan dan Husein ra., dengan didahului kalimat ”Ila hadrati Hasan wa al-Husein ra.  al-fatihah”.
9.    Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Sheykh Abdul Qadir Jailani, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati ghauth al-A’zam Sultan al-Auliya’ al-Sheykh Abdul Qadir al-Jailani ra.  al-fatihah”.
10. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada, Abu Hasan al-Shadhili dengan didahului kalimat ”Ila hadrati ghauth  al-A’zam al-Sheykh Abi Hasan al-Shadhili ra.  al-fatihah”.
11. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Mamak Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Bantani, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati Mamak Muhammad Dimyati bin Muhammad al-Amin al-Bantani wa usulihi wa furu’ihi  al-fatihah”.
12. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Mbah Armin al-Bantani, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati Mbah Armin al-Bantani  al-fatihah”.
13. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Abah KH. Mas’ud Thoha, dengan didahului kalimat ”Ila hadrati Abah Mas’ud bin Taha  wa usulihi wa furu’ihi al-fatihah”.
14. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Mbah H. Thoha, dengan di dahului kalimat ”Ila hadrati Mbah al-Haj Taha  al-fatihah”.
15. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada orang tua si penganut tarekat, dengan didahului kalimat ”Wa lana wa walidina warhamhum kama rabbayana sighara  al-fatihah”.
16. Membaca surat al-fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Khidir As., dengan didahului kalimat ”Ila hadrati Nabiyullah Khidir As.  al-fatihah”.
17. Membaca istighfar sebanyak 100 kali, dengan didahului kalimat “Istaghfiru rabbakum innahu kana ghaffara”.
18. Membaca Salawat sebanyak 3 kali, bacaan salawatnya sebagai berikut: 
……                                                                                      kemudian dilanjutkan dengan membaca dhikir ­“La ilaha Illa Allah” sebanyak 100 kali.

19. Do’a.
Adapun teknis dalam melaksanakan Istighathah, dhikir dan bai’at adalah salik harus dalam keadaan suci (berwudu’), menghadap kiblat, dan duduk seperti pada saat tashahhud akhir (tawaruk kanan) dalam salat, kalau lelah maka boleh duduk tawaruk kiri, kalau lelah lagi maka boleh duduk bersila tetapi dengan cara meletakkan kaki dari belakang (bukan dari depan sebagaimana yang biasa dilakukan orang pada umumnya).
 5. Bay’at
Bay’at (pernyataan setia) merupakan prosesi awal seorang salik dalam melaksanakan perjalanan suluknya. Dalam tradisi tarekat, bay’at adalah semacam perjanjian murid kepada murshidnya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, serta sebagai perwujudan keterkaitan antara keduanya dalam mata rantai bimbingan, penyucian dalam memperoleh derajat ihsan.. Ritual bay’at pada Tarekat Shadhiliyah di Sugihwaras, diadakan secara kolektif yang dipimpin langsung oleh sang murshid, KH. Mas’ud Thoha. Upacaranya dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Huda yang berada di lereng Gunung Andong, Magelang, setiap bulan tepatnya pada malam Ahad Kliwon. Sementara di Sugihwaras, Bojonegoro, upacara bay’at cuma dilaksanakan sebanyak 7 kali dan dianggap telah selesai. Bagi murid baru harus pergi ke Pesantren Nurul Huda yang ada di Magelang untuk mengikuti upacara bay’at tersebut. Di dalam tarekat ini terdapat pemahaman, bahwa semakin sering seorang murid mengikuti ritual bay’at, maka semakin baik guna memperteguh keyakinan kepada Allah dalam menyempurnakan perjalanan suluknya.
Sebagai salah satu landasan normatif bagi pelaksanaan bay’at ini adalah hadith Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut:
Artinya:
Sesungguhnya Rasulullah SAW., pada suatu hari sedang berkumpul dengan para sahabatnya, kemudian beliau bertanya: Adakah diantara kalian orang asing? (yakni Ahl al-kitab), mereka menjawab; tidak ada, Ya Rasululllah. Maka Rasulullah pun menyuruh untuk menutup pintu. Kemudian beliau bersabda: Angkatlah tangan kalian, dan katakan La Ilaha Illa Allah. Maka Shaddad bin ‘Aus berkata; Kami semua mengangkat tangan sesaat dan mengucapkan “La Ilaha Illa Allah”. Selanjutnya Rasulullah SAW. bersabda: Ya Allah sesungguhnya Engkau telah mengutusku, menyuruhku, dan menjanjikan surga-Mu terhadapku dengan kalimat ini, dan sungguh Engkau tidak pernah mengingkari janji. Selanjutnya Rasulullah SAW. bersabda: Bebahagialah kalian semuanya, karena sesungguhnya Allah SWT. telah mengampuni kalian semua”. (HR. Ahmad, Tabrani, dan lain-lain).[25]
Sebelum upacara bay’at dimulai, seluruh murid harus dalam keadaan suci, berpakaian rapi dengan cara menutup aurat (bagi murid perempuan memakai mukenna’/ruku, dan bagi murid lelaki seyogyanya berpakaian putih). Duduk seperti dalam tashahhud akhir dan menghadap murshid, hati konsentrasi penuh dan hanya tertuju kepada Allah SWT., disertai keikhlasan untuk dibimbing sang murshid. Selanjutnya sang murshid membaca kata-kata bay’at, dengan diikuti oleh para murid, cara membacanya sebagaimana sumpah jabatan.
Bentuk prosesi upacara pembai’atannya adalah sebagai berikut:
1. Bismillahir rahmanirrahim
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ).
2. Membaca doa:
(Ya Allah bukakan (mata hati) untukku dengan keterbukaan (seperti) para ‘arifin). (dibaca sebanyak 7 kali)
3.  Membaca do’a :
(Dengan nama AllahYang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah, Salam sejahtera atas kekasih yang tinggi lagi agung  Nabi kita Muhammad Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus).
4. Membaca doa:
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).



5.  Membaca doa :
(Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada tuan kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya). (dibaca sebanyak 7 kali).
6.  Membaca : La ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah
(Tiada Tuhan selain Allah (3 kali), Tuan kita Muhammad SAW, utusan Allah).
7.  Membaca salawat munjiyat:
Artinya:
“Ya Allah sejahterakan tuan kami Muhammad, yang dengan kesejahteraan itu Engkau loloskan kami dari semua balak dan mara-bahaya, Engkau juga mengabulkan hajat-hajat kami, Engkau sucikan kami dari segala kejelekan, Engkau angkat kami kepada derajat yang tertinggi, Engkau gapaikan cita-cita kami yang masih jauh dari semua kebaikan baik dalam kehidupan ini maupun setelah (kelak) mati”.
6.    Kemudian membaca ayat al-Qur’an, yang artinya sebagai berikut :
“Kami berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk. Dengan Menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (Muhammad) sesungguhnya mereka telah berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya, akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barang siapa menempati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (QS. 26:10)
7.    Selanjutnya membaca al-fatihah yang dihadiahkan kepada: (1). Rasulullah SAW., (2). para syeikh sufi, (3). pendiri Tarekat Shadhiliyah, Syeikh Abu Hasan al-Shadhili, (4). Syeikh Abdul Qadir al-Jaylani, dan (5). Syeikh Abu al-Qasim al-Junaydi al-Baghdadi.
8.    Kemudian murshid berdo’a, (sementara para murid mengamininya).
9.    Lalu membaca dhikir “La Ilaha Illa Allah” sebanyak 100 kali, dengan cara jahr (bersuara).
10. Murshid berdo’a.
11. Selanjutnya murshid membimbing muridnya untuk membaca dhikir khas Tarekat Shadhiliyah; “La Ilaha Illa Allah” sebanyak 100 kali, dengan cara jahr, kecuali kata “ila” yang dibaca sirri.
12. Murshid berdo’a.
13. Sebagai penutup acara tawajuhan, para murid membaca salawat sampai sang murshid meninggalkan majlis. Adapun bacaan salawatnya adalah : 
Demikianlah prosesi baiat yang merupakan ritual inti bagi setiap pengikut tarekat, sebagai awal dalam perjalanan suluk-nya. Pada hakikatnya berbaiat adalah berjanji untuk mendengarkan, menaati, menerima nasihat, bertaqwa kepada Allah baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, serta tidak takut berada di jalan-Nya. Bagi murid yang telah dibai’at memiliki kewajiban untuk melaksanakan semua ajaran yang telah ditentukan. Jika tidak, maka berarti ia telah melanggar perjanjian yang telah diucapkannya.
Secara singkat dapat diungkapkan bahwa murid yang berbaiat, berarti telah memasuki madrasah tazkiyah al-nafs dan madrasah ihsan, sehingga dari jiwa murid akan melahirkan sikap tanggung jawab, perhatian terhadap penyucian jiwa, tidak malas, serta tidak mengabaikan untuk merehabilitasi kejernihan hati. Bagi murid yang teguh dan ikhlas untuk menjalankan ajaran-ajaran tarekat, dengan sendirinya ia akan segera memetik buahnya, berupa kebahagiaan lahir-batin. Murid tersebut juga berarti telah mampu menjaga fluktuasi keimanan di dalam hatinya.
Bagi penganut Tarekat Shadhiliyah di Sugih Waras, Bojonegoro, sebelum murid mengikuti upacara baiat, terlebih dahulu diwajibkan oleh sang murshid untuk membaca surat al-ikhlas yang disertai basmalah sebelumnya, sebanyak seratus ribu kali (100.000 kali). Tetapi jika belum membacanya, maka minimal membaca seratus kali, sementara kekurangannya bisa dicicil setiap hari dengan jumlah tidak mengikat (semampu murid). Bacaan surat al-ikhlas tersebut lazim disebut dengan istilah fidak (penebus dosa). Setiap selesai membaca fidak tersebut, maka untuk mengakhirinya harus berdoa sebagai berikut: 
Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah Mengetahui, bahwa aku telah membaca kemerdekaan yang besar, yaitu: “Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Muhammad) Dia adalah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat menggantungkan diri. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang menyamainya”. (sebanyak) seratus ribu kali. Ketetapan di sisi-Mu adalah sesuatu yang besar dan pahala di sisi-Mu adalah sesuatu yang agung. Ya Allah, aku hendak menggantungkan diri dan menitipkan jiwa hanya kepada-Mu, dan semua yang ada padaku dari sisi-Mu adalah merupakan titipan dari-Mu. Aku bersaksi pada-Mu, Ya Allah, sesungguhnya aku telah membeli jiwaku (dengan bacaan tersebut) untuk menghindari siksa api neraka, oleh karena itu bebaskanlah, lindungilah, batasilah, hindarilah, dan selamatkanlah daku dari siksa api neraka. Kemudian masukkanlah aku ke dalam surga bersama orang-orang yang berbakti (pada-Mu), Wahai Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. dan keluarganya beserta para seluruh sahabatnya, dan semua orang-orang baik yang berdhikir maupun yang lalai dari berdhikir  kepada-Nya. Maha suci Tuhanmu (Muhammad), Yang Maha Perkasa dari apa yang disifatkan (oleh orang-orang kafir) dan semoga keselamatan tetap tercurahkan kepada para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.



[1] Dalam perspektif sosiologis, agama merupakan sistem kepercayaan yang teraktualisasi dalam wujud perilaku manakala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itu menginternalisasi dalam sebuah komunitas, sehingga menjadi kekuatan yang mampu membentuk dan menggerakkan prilaku individu dan sosial, maka sistem kepercayaan tersebut menjadi realitas sosial, dan prilaku tersebut dinamakan sikap keberagamaan. Lihat Henri L. Tischler Thomas, Introduction to Sociology, (Chicago: Holt, Rinehart and Winston, 1990), 380. Lihat juga F. O’dea, Sosiologi Agama, (Jakarta: Rajawali, 1992), 21.
[2] al-Taftazani, Madkhal, 292.
[3] Lihat Ibn al-Randi, Sharah al-Hikam, (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt). Kitab al-Hikam ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia seperti Inggris, Prancis, Spanyol, dan juga bahasa Indonesia, bahkan juga ke dalam bahasa daerah seperti bahasa Jawa, dan  Sunda. Adapun dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah diterjemahkan oleh KH. M. Cholil Bisri, Indahnya Bertasawuf: Mutiara-Mutiara Ibn ‘Ata’illah al-Sakandary, (Yogyakarta: Alief, 2002), dan oleh H. Salim Bahreisy, Terj. Al-Hikam: Pendekatan Abdi pada Khaliqnya, (Surabaya: Balai Buku, 1984).
[4] Taftazani, Ibid., 293-294.
[5] KH. Mas’ud Thoha, wawancara, (Sugih Waras: Minggu, 9 Maret 2003).
[6] Menurut sang murshid, kerjakan segala yang diperintahkan Allah serta jauhi pula segala larangan-Nya, maka pasti Allah akan menjamin kehidupanmu di dunia. Segala yang ia dambakan akan tercapai segera, setidaknya minimal dalam waktu 7 hari dan maksimal dalam waktu 41 hari. Allah pasti mengabulkan doa kalian semua, asalkan taat kepada Allah, sebab terdapat hadith qudsi, yang berbunyi: “Aku malu kepada hamba-Ku, jika ia berdoa pada-Ku tetapi tidak Aku kabulkan.” Oleh karenanya, jangan sesekali putus asa terhadap rahmat Allah, sebab Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Abah (kata sang murshid), tidak pernah lama kalau mendambakan sesuatu, setidaknya selama 3 hari kemudian Allah mengabulkan apa yang dicita-citakan Abah. Itu semua terjadi tak lain karena Abah taat kepada Allah, salatku sehari semalam 700 raka’at. Ini bukan riya’, tetapi agar kalian semua mau mengambil pelajaran, tuturnya.
[7] KH. Mas’ud Thoha, Tawajjuhan, (Sugih Waras: 8 Maret 2003)
[8] Maksud anggur dalam kisah itu dalam pengertian kiasan, diibaratkan Allah yang memabukkan. Lihat Radjasa Mu’tasim & Abdul Munir Mulkhan, Bisnis Kaum Sufi: Studi Tarekat Dalam Masyarakat Industri, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 156-158.
[9] Wawancara dengan Ustaz Slamet di Sugih Waras,  tanggal 12 september 2002.
[10] Zaini, Asal-Usul, 2.
[11] Al-Qushayri, al-Risalah al-Qushayriyah, (Mesir: Bab al-Halabi, 1959), 181.
[12] Abu al-Wafa’ al-Ghaytami al-Taftazani, Ibn ‘Ataillah al-Sakandari wa Tasawwufihi”, (Kairo: Maktabah al-Anjalu al-Misriyah, 1969), 170.
[13] Maksud “tawajuhan” di sini adalah berhadap-hadapan atau bertemunya antara murid dengan murshid secara langsung, dalam rangka menimba ilmu-ilmu suluk.
[14] Ketika menyambut kehadiran sang murshid di majlis tawajuhan tersebut, para murid membaca salawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW., demikian pula ketika sang murshid akan meninggalkan majlis. Bacaan salawatnya adalah: Sallallah ‘ala Muhammad, sallallah ‘alayhi wa sallim.
[15] Al-Hikam adalah karya Ibn Atha’illah setelah ia menimba ilmu-ilmu ketarekatan dari sheikh Abu Abbas al-Mursi. Al-Mursi adalah salah seorang murid dari Imam Abu Hasan al-Shadhili, yang berperan sentral dalam menyebar luaskan ajaran-ajaran al-Shadhili. Dalam beberapa literatur menyebutkan bahwa al-Shadhili tidak pernah menelorkan karya tulis, kitab al-hikam itulah yang menjadi corong penyebaran ajaran Tarekat Shadhiliyah.
[16] Bisri, Indahnya, 8.
[17] Ahmad Warson Munawwir, “ Dhakara”, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pondok Pesantren Munawwir, 1984), 482.
[18] Kharisuddin Aqib, Al-Hikmah: Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah, (Surabaya: dunia Ilmu, 2000), 78. Penjelasan lebih detailnya, lihat A. Sahib al-Wafa Taj al-‘Arifin, Miftah al- Sudur, terj. Abu Bakar Aceh, Kunci Pembuka, Juz I (Sukabumi: Kotamas,tt.),12.
[19] Sayyid Nur bin Sayyid Ali, Al-Tasawwuf al-Shar’iyah, (Beyrut: Dar al-kutub al-ilmiyah, 2000), Terj. M. Yaniyullah, Tasawuf Syar’i: Kritik atas kritik (Jakarta: Hikmah, 2003), 148.
[20] Ibid., 149.
[21] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah al-Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhi, Juz. V (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), 127-128.
[22] Ustadh Slamet, Wawancara, Bojonegoro, tanggal 9 Oktober 2002.
[23] Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dari ‘Umar bin Khattab dikemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW. melihat kaum mushrik berjumlah seribu orang, sedang sahabat-sahabatnya hanya berjumlah tiga ratus orang dan belasan kuda saja. Nabi pun menghadap qiblat dan mengangkat tangannya seraya memohon kepada Allah dengan perasaan sedih: “Ya Rabbana, kabulkanlah apa yang telah dijanjiikan kepadaku. Ya Rabbana, sekiranya Engkau membinasakan golongan muslimin, maka tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini”. Tiada henti-hentinya Nabi memohon kepada Allah dengan perasaan sedih, sehingga selendangnya jatuh. Datanglah Abu Bakar mengambilkan selendangnya dan meletakkan di pundak nabi. Lalu Abu Bakar merangkul nabi dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabiyullah, cukup jeritan hatimu itu, sesungguhnya Tuhanmu akan meluluskan permintaanmu dan menepati janji-Nya”. Lalu Allah menurunkan malaikat berbondong-bondong. (asbab al-nuzul QS.8:9) Lihat Khalid Abd. Rahman al-Ka’ab, Al-Qur’an al-Karim wa Safwan al-Ma’ani al-Qur’an al-Karim bi Asbab al-Nuzul Li al-Suyuti,  (Kairo: Dar al-Salam, 1994), 178. Juga lihat Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naysaburi, Asbab al-Nuzul, (Beirut: Dar al-fikr, 1988), 100.
[24] Bacaan Istighathah di dalam Tarekat Naqshabandiyah biasanya banyak dibaca oleh sebagian besar kaum Nahdliyyin (walaupun tidak menganut Tarekat Naqshabandiyah) di beberapa masjid atau di musalla, yang bukunya banyak dijual bebas.
[25] Muhammad bin Abdullah al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayni fi al-Hadith, Juz I (Beirut: Dar al-fikr, 1978), 501.

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wrwb.

    Mohon maaf, saya hendak bertanya, apakah makalah ini jenengan yang menulis atau menyadur dari pihak lain? jika ditulis sendiri, apakah melibatkan sumber pihak pertama, semisal murid atau dari Sang Mursyid sendiri?

    Nuwun.

    Ahmad

    BalasHapus
  2. wass...itu hasil penelitian saya beberapa tahun yang lalu. sumber sy cantumkan di footnote silakan dilhat. mksh

    BalasHapus